Selasa, 18 Juni 2013

perekonomian di pelabuhan panarukan situbondo



MAKALAH
PEREKONOMIAN DI PELABUHAN PANARUKAN SITUBONDO

Dosen Pengampu :
Dodik

Di Susun Oleh :
Ahmad Zainullah              201110342
Cholik Hasan S                 201110217
Ittakillah H.K                   201110228
Masduki                            201110219
Nurul Hidayah                  201110229

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS ABDURACMAN SALEH SITUBONDO
2013



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Panarukan merupakan pelabuhan yang strategis karena terletak di sebelah Pantai Utara Jawa Timur dan sebagai salah satu bandar kuna telah mempermainkan peranannya sejak berabad-abad yang lampau. Pada masa Kerajaan Majapahit Panarukan sangat terkenal sebagai kota pelabuhan di ujung timur Pulau Jawa. Selain diketahui bahwa Hayam Wuruk pernah mengunjungi Panarukan pada tahun 1359 Masehi. Panarukan mempunyai kedudukan lebih penting karena terletak pada tepi jalan perdagangan yang lebih ramai. Ini mungkin menjadi alasan mengapa raja dan petinggi-petinggi Kerajaan Majapahit sering singgah di Panarukan.
Panarukan  saat ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Secara geografis Kabupaten Situbondo terletak di Pantai utara Jawa Timur bagian timur dengan posisi diantara 7? 35' - 7? 44'LS dan 113? 30' - 114? 42'BT.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang terjadi pada perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan pada saat penjajahan belanda ?
2.      Mengapa perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan menurun pada saat Indonesia-Belanda ?
3.      Bagaimana perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan pada saat ini ?

1.3  Manfaat
1.      Mengetahui perekonomian mayarakat di pelabuhan panarukan pada saat penjajahan belanda.
2.      Mengetahui perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan menurun pada saat Indonesia-Belanda.
3.      Mengetahui perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan pada saat ini.

1.4  Tujuan
1.      Untuk mengetahui perekonomian mayarakat di pelabuhan panarukan pada saat penjajahan belanda.
2.      Untuk mengetahui perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan menurun pada saat Indonesia-Belanda.
3.      Untuk mengetahui perekonomian masyarakat di pelabuhan panarukan pada saat ini.



















BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pelabuhan Panarukan Situbondo
Panarukan dahulu merupakan bagian dari Keresidenan Besuki. Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah "Kabupaten Panarukan" dengan ibukota Situbondo. Pada masa pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Daendels (? Tahun 1808-1811 M) membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan "Jalan Anyer - Panarukan" atau lebih dikenal lagi dengan "Jalan Daendels" atau juga "Jalan Pos".
Panarukan berkembang dengan pesat karena surplus wilayah belakang yang merupakan penghasil ekspor, seperti tembakau, kopi dan tebu. Dengan berkembangnya Panarukan yang begitu pesat, sehingga pada akhirnya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten Panarukan dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Amijoyo (1858 - 1872) sebagai Bupati Pertama.
Pada masa pemerintahan Bupati Achmad Tahir (? Tahun 1972 M) Kabupaten Panarukan kemudian berganti nama menjadi Kabupaten Situbondo, dengan ibukota tetap di Situbondo, berdasarkan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28/1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan pemerintah daerah.
Kawasan pelabuhan Panarukan berada di Pedukuhan Pesisir Kilensari Kecamatan Panarukan. Jarak dari pusat kota Situbondo ke lokasi pelabuhan Panarukan kurang lebih 8 km ke arah barat. Lokasi pelabuhan terletak di pinggir laut dan dekat dengan jalan raya sehinggga dapat dijangkau dengan mudah.

2.2 Perkonomian Pada Jaman Belanda
Pada masa pendudukan Kolonial Belanda, di wilayah Kabupaten Panarukan terdapat 12 buah pabrik gula, yaitu Pabrik Gula (PG) De Maas, Assembagoes, Pandjie, Olean, Boedoean, Soekowidi, Prajekan, Tangarang, Bedadoeng, Semboro dan Goenoeng Sarie. Pada saat ini di wilayah Kabupaten Situbondo hanya terdapat enam pabrik gula, yaitu PG De Maas, Assembagoes, Pandjie, Olean, Boedoean dan Wringin Anom, yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Situbondo. Dari keenam pabrik gula tersebut empat pabrik gula masih terlihat wujudnya dan masih berproduksi hingga saat ini pabrik gula Assembagus, Olean, Pandjie, Wringin Anom, satu pabrik gula masih berdiri tetapi tidak berproduksi lagi adalah PG Demaas dan satu pabrik gula yang lain adalah PG Boedoean sudah tidak tampak lagi keberadaannya. Keseluruhan pabrik-pabrik tersebut merupakan produsen gula terbesar di Jawa Timur.
Belanda menjajah daerah timur utamanya di daerah panarukan Sejak abad XVI Panarukan sudah berfungsi sebagai salah satu kota pelabuhan terkemuka di Jawa Timur. Fungsi pelabuhan Panarukan semakin tampak yakni pada sekitar abad XIX tatkala daerah Jember dan Bondowoso dijadikan sebagai sentra area penanaman cash crop production, khususnya tanaman tembakau, kopi, tebu dan produk-produk perkebunan yang lain. Di pelabuhan Panarukan inilah tempat untuk menimbun, menyimpan dan mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri.
Pada masa belanda berdiri sebuah perusahaan yang bernama “ Jakarta Lloyd “ pada tahun 1886 kondisi perekonomian masyarkat panarukan semakin maju/makmur dikarenakan masyarakat lebih diperhatikan oleh pihak Belanda. Masyarakat sekitar pelabuhan rata-rata bekerja sebagai tenaga kerja bongkar muat barang yang lebih dikenal dengan sebutan TKBM. karena pada masa Belanda masyarakat lebih mudah mendapatkan pekerjaan, mereka bekerja sebagai kuli bongkar muat barang di pelabuhan panarukan,yang dibuktikan dengan adanya 15 gudang penampungan barang di dekat pelabuhan untuk pengiriman barang-barang hasil dariperkebunan Bondowoso,Jember,Besuki,dan daeah sekitar Situbondo seperti gula,kopi,karet,tembakau,kayu dan kakau/coklat. Barang-barang tersebut dikirim keluar negeri oleh Belanda malalui pelabuhan Panarukan sehingga pelabuhan Panarukan pada jaman itu sangatlah ramai dengan aktivitas bongkar muat barang ke kapal besar.
Pelabuhan Panarukan letaknya sangat strategis, yaitu pertama terletak di teluk yang merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung suatu pelayaran. Kedua pelabuhan Panarukan terletak di jalur pelayaran dari barat menuju ke Maluku di bagian timur dan sebaliknya dari timur ke barat. Ketiga, adanya persediaan air bersih yang dibutuhkan kapal-kapal untuk perbekalan air minum dalam pelayaran jarak jauh. Keempat, wilayah belakang. Panarukan penghasil gula, kopi, tembakau, beras dan terbentang hutan jati yang kayunya berkualitas baik sebagai komoditi perdagangan dan bahan pembutan kapal.
Pelabuhan Panarukan erat hubungannya dengan aktivitas serta perkembangan PT. Djakarta Lloyd sub. Cab Panarukan (dahulu Panaroekan Maatscappij) yang didirikan pada tahun 1886. Maka sejak tahun pendirian tersebut pelabuhan Panarukan sudah dikenal pasaran dunia atau Eropa melalui ekspor komoditi gula, kopi, tembakau, karet dan jagung.
Untuk menunjang berlangsungnya kegiatan perdagangan maka di pelabuhan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung. Pemerintah kolonial mempersiapkan sarana dan prasarana pelabuhan antara lain dibangunnya dermaga, alat Derek (alat pengangkut), lori, gudang-gudang pemerintah dan milik swasta, serta gudang-gudang garam. Pemerintah juga menyediakan berbagai kebutuhan kapal, akomodasi, air bersih, tempat penumpukan untuk barang-barang impor-ekspor, parkiran, menyambung rel kereta api, dan menyediakan gerbong-gerbong, menyambung pipa air, bahan bakar, kabel-kebel listrik, menyediakan tongkang-tongkang, galangan kapal, tempat timbangan umum, penginapan, rumah sakit, dan lain-lain. Untuk mendukung kelancaran administrasi pelabuhan, pemerintah membangun kantor bernama Djakarta Lyiod. Dari persiapan tersebut tampak bahwa Panarukan berfungsi sebagai pelabuhan tempat menyalurkan barang-barang ke berbagai.
Di pelabuhan Panarukan terdapat lori yang menghubungkan stasiun kereta api sampai dermaga, kira-kira sepanjang 1 Km. Untuk angkutan tembakau dan kopi dari Jember dan Bondowoso lebih murah dan cepat dengan jasa kereta api sampai Panarukan.
Sejak awal abad XIX pihak pemerintah kolonial menerapkan kebijakan ekonomi the system of onterprice (sistem pembangunan perusahaan atau Industri) sebagai pengganti the cultivation system (sistem pengolahan bahan). Dampak kebijakan politik ekonomi itu menyebabkan banyak berdirinya perusahaan perkebunan. Salah satu daerah yang berkembang sebagai akibat kebijakan itu ialah daerah Bondowoso dan Jember. Kedua daerah ini terletak di bagian pedalaman yang cocok untuk penanaman komoditi ekspor. Namun pada waktu itu permasalahan utama yang dihadapi oleh perusahaan perkebunan ialah sulitnya mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri, karena kedua daerah tersebut jauh dari pelabuhan. Untuk mengatasi masalah tersebut George Bernie, pemilik NV LMOD (Landbouw Matscapay Out Djember) yakni salah seorang penguasa perkebunan terbesar di daerah ini berinisiatif untuk membangun pelabuhan di Panarukan dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan. Gagasan untuk membangun pelabuhan Panarukan terealisasi pada tahun 1897 dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan yang berjarak 98 km dibuka pada tanggal 1 Oktober 1987. Untuk itu Bernie bekerjasama dengan Stoomvaart Matscapien Nederlandsch dengan mendirikan Matscapay Panaroekan. Sejak berdirinya perusahaan pelabuhan ini semua hasil perkebunan yang berasal dari Bondowoso, Jember, Banyuwangi, dan Panarukan sendiri ditimbun di gudang-gudang di sekitar pelabuhan kemudian diangkut dari pelabuhan Panarukan ke luar negeri terutama ke Bremen (Jerman) dan Rooterdam (Belanda).
2.3 Perekonomian Indonesia-Belanda 1945-2000
Pada zaman kemerdekaan Indonesia perekonomian masayaakat panarukan semakin menurun disebabkan karena pelabuhan sudah tidak beroperasi ke internasional lagi dan pengiriman barang-barang ke luar negeri sudah dinonaktifkan karena Adanya blokade ekonomi, oleh Belanda (NICA). Blokade laut ini dimulai pada bulan November 1945 ini, menutup pintu keluar-masuk perdagangan RI. Adapun alasan pemerintah Belanda melakukan blokade ini adalah
-        Untuk mencegah dimasukkannya senjata dan peralatan militer ke Indonesia;
-        Mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing lainnya;
-        Melindungi bangsa Indonesia dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang bukan Indonesia.
Akibat dari blokade ini barang-barang dagangan yang melalui pelabuhan tidak dapat diekspor, sehingga banyak barang-barang ekspor yang dibumihanguskan. Selain itu Indonesia menjadi kekurangan barang-barang impor yang sangat dibutuhkan.barang-barang yang akan dikirim keluar negeri kosong dan barang yang masuk sangat berkurang, sehingga pendapatan masyarakat panarukan di sekitar semakin tidak sebanding dengan pengeluarannya. Penghasilan masyarakat yang hanya bergantung kepada ongkar muat barang yang akan diankut ke kapal-kapal besar
2.4 Perekonomian dari tahun 2000-2013
Pada zaman yang semakin maju ekonomi di pelabuhan panarukan semakin mundur dikarenakan masalah yang terjadi diantaranya :
1.      Bencana alam
Menurunnya perekonomian di pelabuhan panarukan karena terjadi pendangkalan  yang disebabkan oleh banjir dari sungai sampeyan dan sungai bandengan pada tahun 2002 sehingga pelabuhan panarukan tidak bisa lagi dimasuki oleh kapal besar,2008 terjadi banjir rob kedua kalinya hingga pesisir pantai panarukan semakin mendangkal dan pada era ini sudah dibangun kembali dermaga yang panjang agar kapal besar dapat melabuhkan kembali di pelabuhan panarukan dan ekonomi masyarakat semakin tinggi
2.      Pemerintah-Masyarakat
Masyarakat yang kurang perhatian terhadap pelabuhan panarukan menyebabkan pelabuhan tidak terawat dan rusak. Dan pemerintah kabupaten Situbondo yang tidak memperhatikan pelabuhan mengakibatkan pelabuhan ini hanya dipergunakan untuk angkutan kapal kecil yang mengangkut barang seperti kayu,garam,kapas dan masyarkat daerah skitar yang akan menyebrang  ke pulau-pulau terdekat sehingga masyarakat di pelabuhan panarukan tidak mempunyai pekerjaan tetap dan beralih ke pekerjaan sebagai kuli bangunan dan lain-lain sehingga pengeluaran dan pemasukan tidak seimbang ladi di pelabuhan.











Lampiran 1
·      Observasi terhada masyarkat di sekitar pelabuhan panarukan
+        Bagaiman perekonomian masayarakat di sekitar pelabuhan panarukan pada jaman Belanda?
+        Bagaiman perekonomian masayarakat di sekitar pelabuhan panarukan pada jaman Indonesia-Belanda 1945-2000?
+        Bagaiman perekonomian masayarakat di sekitar pelabuhan panarukan pada tahun 2000 sampai sekarang?
-     Bapak Ansori (penjaga Marcosoar di pelabuhan panarukan)
-     Bapak Ahmadi (Nelayan di pelabuahan)
-     Bapak Mat (pengangkut barang/kuli)
o   Perekonomian masayarkat pada jaman Belanda lebih makmur karena pada jaman itu pelabuhan menjadi pelabuhan internasional karena banyak kapal-kapal besar yang melabuh untuk mengantar barang ke negara Belanda dan sekitarnya barang ke pulau yang
o   Pada jaman kemerdekaan Indonesia perekonomian masyarakat di pelabuhan panaruka menurun karena Belanda sudah tidak lagi di Panarukan sehingga pelabuhan tidak lagi menjadi pelabuhan Internasional melainkan Nasional yang hanya kapal-kapal kecil untuk mengangkat barang ke pulau-pulau yang ada di Indonesia
o   Pada tahun 2000-2013 keadaan ekonominya semakin merosot karena terjadi pendangkalan laut yang disebabkan oleh banjir dari sungai sampeyan dan bandengan dan kurang perhatiannya masyarakat dan pemerintah untuk mempertahankan pelabuhan kuno di panarukan







                                                                                                                     

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Perhubungan  dkk,. 2000. Perusahaan Umum Pelabuhan III Cabang panarukan. Situbondo: Dinas Perhubungan
Afriani Fitri (2004). Sejarah Pelabuhan Panarukan. FKIP Universitas Abulyatama Aceh Besar